Bowie

  1. Camera: Samsung SM-N950F
  2. Aperture: f/1.7
  3. Exposure: 1/33th
  4. Focal Length: 4mm

Reunited

Jakarta, October 2017. Jakarta, October 2017.

Jakarta, October 2017.

  1. Camera: Canon EOS 5D Mark III
  2. Aperture: f/2.8
  3. Exposure: 1/50th
  4. Focal Length: 70mm

This baby girl turns 10!

Udah bisa protes kalo masih ada yang mispronounce namanya. Isla tulisannya, Ayla dibacanya, gitu jelasnya.

Someday when you find this post, just remember that we, Ibu dan Abi, always try our best to be there for you. We love you kiddo. Forever and a day.

Happiest 10th birthday. Be stronger, be wiser, be smarter, stay goofy yet classy.

June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017

June 29, 2017

Pias Scarab 1.0 Brushed Steel / Hi Viz. Photo: @farisyunus

  1. Camera: Fujifilm X-E2
  2. Aperture: f/1.8
  3. Exposure: 1/60th
  4. Focal Length: 35mm
June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017 June 29, 2017

June 29, 2017

Swirls before girls

Ronnie Fieg x Asics Gel Sight “Pacific” #spokatology

pergijauh:

RIP Freemagz!
2 tahun kerja bareng sama majalah ini cukup buat gue sedih pas tau kalo majalah ini ditutup.
Tetap berkarya, apapun mediumnya :)
Dan inilah tulisan gue yang belum sempat dipublish di Freemagz! karena udah keburu ditutup. Enjoy.


Oxymoron

Apa kata pertama yang ngetrend ketika awal tahun? Resolusi. Semua orang punya resolusinya sendiri-sendiri, mau yang belum kesampaian atau yang sudah kesampaian dan mau upgrade ke resolusi level berikutnya, tapi please jangan bilang resolusi lo adalah HD 1920 x 1080, karena kalau lo bilang kaya gitu kemungkinan besar lo belum move on dari jokes tahun 1990.

Ngomongin persoalan upgrade resolusi, mungkin jangan berfikir untuk merevolusi dalam skala besar, pernah kepikiran untuk mengubah dengan skala yang lebih mikro? Mari kita ngomongin soal oxymoron, oxymoron adalah perilaku yang sifatnya bertolak belakang dari tujuan sebenarnya, semua orang pernah atau mungkin lagi mengalami hal ini, termasuk gue, seperti:

Smartphone yang enggak smart. Punya henpon harga belasan juta, prosesor canggih, kamera puluhan megapixel dengan lensa bukaan besar, layar retina atau ultra HD, jaringan 4G, memory puluhan giga,  tapi kalau ditelpon enggak pernah diangkat, sering disilent, chat enggak pernah dibales, aplikasi yang dipake cuma Camera 360 doang. Oke, hak lo untuk memilih siapa aja yang pengen lo telfon atau menerima telfon, hak lo untuk beli karena emang pengen beli aja dan kebetulan punya uang dan yang pasti, hak lo juga untuk menggunakannya dengan smart atau enggak.

Keinginan yang kedinginan. Ini adalah hal kecil yang baru gue sadari, sering terjadi ketika subuh, bangun tidur dengan mengeluh kedinginan, padahal udah pake sweater, kaos kaki dan selimut tebal, kalau AC dimatiin, malah panas, ternyata jawabannya adalah sesimpel setelan AC dengan suhu 16 derajat dengan kipas maksimum, semakin dingin Acnya semakin tebal pakaian yang kita pakai, gue coba setel di suhu 22 derajat dengan kipas level 2, lalu pake boxer, kaos tipis dan selimut lebih tipis, kelar.

Sepatu lari yang males lari. Jaman sekarang, sepatu lari memang sudah beralih fungsi menjadi sepatu gaya, harga sepatu yang mahal dengan teknologi yang canggih, dibuat seringan mungkin untuk aktivitas yang sport banget, tapi kenyataannya kalau naik tangga dikit udah ngos-ngosan. Oke, coba lo bayangin deh, ilmuwan udah capek-capek nyiptain sepatu paling inovatif, riset bertahun-tahun dengan begadang dikejar deadline, bapak ibunya udah mahal-mahal biayain anaknya sekolah, jadi ilmuwan pembuat sepatu kwalitet nomor wahid, bikin sepatu lari tapi yang beli ogah lari, kasian. *puk-puk ilmuwan*

Macet Lovers yang ngeluh macet.Lebih baik lo punya 1.000 kendaraan tapi lo doang yang make, karena teknisnya setiap hari pasti lo cuma make 1 kendaraan, dibandingkan dengan 1 rumah isi 7 orang dan masing-masing punya kendaaran sendiri, setiap hari punya rutinitas nge-Path serempak dengan status “KOK MACET YA?”

Ngomongin orang di belakang yang suka ngomongin kita dibelakang. Pernah nulis status di sosmed “Kalo berani, jangan ngomong di belakang deh!” dengan hashtag nomention? Atau pernah gak gosip ke temen baik lo kalo lo lagi diomongin di belakang sama orang lain, “Gila ya dia beraninya ngomongin gue di belakang, padahal ya dia itu bla..bla..bla” mungkin lo sebaiknya harus tau, secara enggak langsung, lo melakukan hal yang sama, ngomongin orang di belakang, kalo lo enggak pernah ngelakuin itu, selamat, lo bukan orang yang terbelakang.

Apolitis yang politis. Mungkin lo tipikal orang yang benci dengan politik, dengan alasan bullshit lah atau apalah tapi di sisi lain mungkin lo orang yang suka dengan band Efek Rumah Kaca, mungkin lo enggak sadar bahwa lirik Efek Rumah Kaca itu sangat political correct. Gue akui band ini bisa mengemas lirik yang “punk” banget dengan lagu yang bisa dinikmati kaum hipster dan asal lo tau, benci dengan politik adalah sebuah tindakan politis. Selamat.

Berak di piring tempat kau makan.

Setiap kantor pasti punya dramanya masing-masing, hal-hal yang ngeselin yang bisa bikin kita enggak konsen dalam bekerja, ketika itu terjadi, yang mungkin kita lakukan adalah cuek aja atau juga malah muak. Ketika muak, pelampiasannya mungkin dengan cerita sama temen baik atau juga cerita ke setiap orang yang lo temui, menjelek-jelekan kantor lo, membandingkan dengan kantor lain yang sekiranya lebih baik, tapi sampai saat ini lo masih bekerja di tempat yang sama, dengan pengulangan yang sama. Kalau emang enggak betah dan muak, kenapa enggak resign? Enggak punya pilihan lain? Ya coba nikmati dramanya aja sambil ngemil popcorn.

Itulah sebagian kecil hal-hal yang bersifat oxymoron yang mungkin pernah atau sedang kita alami. Ketika lo habis baca tulisan ini, dalam hitungan ke-tiga, tiga.. dua.. satu, mari kita senyum-senyum.

Gofar Hilman

image