RIP Freemagz! 2 tahun kerja bareng sama majalah ini cukup buat gue sedih pas tau kalo majalah ini ditutup. Tetap berkarya, apapun mediumnya :) Dan inilah tulisan gue yang belum sempat dipublish di Freemagz! karena udah keburu ditutup. Enjoy.
Oxymoron
Apa kata pertama yang ngetrend ketika
awal tahun? Resolusi. Semua orang punya resolusinya sendiri-sendiri, mau yang
belum kesampaian atau yang sudah kesampaian dan mau upgrade ke resolusi level
berikutnya, tapi please jangan bilang resolusi lo adalah HD 1920 x 1080, karena
kalau lo bilang kaya gitu kemungkinan besar lo belum move on dari jokes tahun
1990.
Ngomongin persoalan upgrade resolusi,
mungkin jangan berfikir untuk merevolusi dalam skala besar, pernah kepikiran
untuk mengubah dengan skala yang lebih mikro? Mari kita ngomongin soal
oxymoron, oxymoron adalah perilaku yang sifatnya bertolak belakang dari tujuan
sebenarnya, semua orang pernah atau mungkin lagi mengalami hal ini, termasuk
gue, seperti:
Smartphone
yang enggak smart. Punya henpon harga belasan juta, prosesor canggih, kamera puluhan
megapixel dengan lensa bukaan besar, layar retina atau ultra HD, jaringan 4G,
memory puluhan giga, tapi kalau ditelpon
enggak pernah diangkat, sering disilent, chat enggak pernah dibales, aplikasi
yang dipake cuma Camera 360 doang. Oke, hak lo untuk memilih siapa aja yang
pengen lo telfon atau menerima telfon, hak lo untuk beli karena emang pengen
beli aja dan kebetulan punya uang dan yang pasti, hak lo juga untuk
menggunakannya dengan smart atau enggak.
Keinginan
yang kedinginan. Ini adalah hal kecil yang baru gue sadari, sering terjadi ketika subuh,
bangun tidur dengan mengeluh kedinginan, padahal udah pake sweater, kaos kaki
dan selimut tebal, kalau AC dimatiin, malah panas, ternyata jawabannya adalah
sesimpel setelan AC dengan suhu 16 derajat dengan kipas maksimum, semakin
dingin Acnya semakin tebal pakaian yang kita pakai, gue coba setel di suhu 22
derajat dengan kipas level 2, lalu pake boxer, kaos tipis dan selimut lebih tipis,
kelar.
Sepatu
lari yang males lari. Jaman sekarang, sepatu lari memang sudah beralih fungsi menjadi sepatu
gaya, harga sepatu yang mahal dengan teknologi yang canggih, dibuat seringan
mungkin untuk aktivitas yang sport banget, tapi kenyataannya kalau naik tangga dikit
udah ngos-ngosan. Oke, coba lo bayangin deh, ilmuwan udah capek-capek nyiptain
sepatu paling inovatif, riset bertahun-tahun dengan begadang dikejar deadline,
bapak ibunya udah mahal-mahal biayain anaknya sekolah, jadi ilmuwan pembuat
sepatu kwalitet nomor wahid, bikin sepatu lari tapi yang beli ogah lari, kasian.
*puk-puk ilmuwan*
Macet
Lovers yang ngeluh macet.Lebih baik lo punya 1.000 kendaraan tapi lo doang yang make, karena
teknisnya setiap hari pasti lo cuma make 1 kendaraan, dibandingkan dengan 1
rumah isi 7 orang dan masing-masing punya kendaaran sendiri, setiap hari punya
rutinitas nge-Path serempak dengan status “KOK MACET YA?”
Ngomongin
orang di belakang yang suka ngomongin kita dibelakang. Pernah nulis status di
sosmed “Kalo berani, jangan ngomong di belakang deh!” dengan hashtag nomention?
Atau pernah gak gosip ke temen baik lo kalo lo lagi diomongin di belakang sama
orang lain, “Gila ya dia beraninya ngomongin gue di belakang, padahal ya dia
itu bla..bla..bla” mungkin lo sebaiknya harus tau, secara enggak langsung, lo
melakukan hal yang sama, ngomongin orang di belakang, kalo lo enggak pernah
ngelakuin itu, selamat, lo bukan orang yang terbelakang.
Apolitis
yang politis. Mungkin lo tipikal orang yang benci dengan politik, dengan alasan
bullshit lah atau apalah tapi di sisi lain mungkin lo orang yang suka dengan
band Efek Rumah Kaca, mungkin lo enggak sadar bahwa lirik Efek Rumah Kaca itu
sangat political correct. Gue akui
band ini bisa mengemas lirik yang “punk” banget dengan lagu yang bisa dinikmati
kaum hipster dan asal lo tau, benci dengan politik adalah sebuah tindakan
politis. Selamat.
Berak di
piring tempat kau makan.
Setiap kantor pasti punya dramanya
masing-masing, hal-hal yang ngeselin yang bisa bikin kita enggak konsen dalam
bekerja, ketika itu terjadi, yang mungkin kita lakukan adalah cuek aja atau
juga malah muak. Ketika muak, pelampiasannya mungkin dengan cerita sama temen
baik atau juga cerita ke setiap orang yang lo temui, menjelek-jelekan kantor
lo, membandingkan dengan kantor lain yang sekiranya lebih baik, tapi sampai
saat ini lo masih bekerja di tempat yang sama, dengan pengulangan yang sama.
Kalau emang enggak betah dan muak, kenapa enggak resign? Enggak punya pilihan
lain? Ya coba nikmati dramanya aja sambil ngemil popcorn.
Itulah sebagian kecil hal-hal yang bersifat oxymoron yang
mungkin pernah atau sedang kita alami. Ketika lo habis baca tulisan ini, dalam
hitungan ke-tiga, tiga.. dua.. satu, mari kita senyum-senyum.